Rabu, 07 Agustus 2013

Berusaha, Berdoa dan Bersabar

Berusaha, Berdoa dan Bersabar adalah tiga kata yang gampang diucapkan tapi pada kenyataannya dalam proses kehidupan bukanlah hal yang gampang dilakukan.Hal itu kualami ketika aku dalam proses mencari solusi untuk kesembuhanku.
Ketika dokter Detty mengatakan solusinya adalah bedah, hatiku merasa campur aduk..rasa takut, rasa sedih dan histeris yang tak bisa ku ekspresikan. Bila dalam kondisi begini rasanya kupeluk mamaku dan menangis dipelukkannya tapi yang kulakukan adalah aku harus kuat dan tabah. Kukatakan pada dokter Detty, bisakah dokter operator ku seorang wanita dan itu adalah hak pasien untuk memilih dokternya. Sementara di rumah sakit tempat dokter Detty bekerja, dokter bedahnya adalah seorang Pria..aku tidak mau. Akhirnya dokter Detty merujukku kesalahsatu RS Internasional di Tangerang yaitu dr. Retno Sp. B

Tibalah hari dimana aku sendiri menemui dokter Retno..itupun atas inisiatif sahabatku Nadira yang mendaftarkan diriku agar aku bisa konsultasi dengan dokter Retno, mungkin jika tidak ada inisiatif sahabatku..aku tidak akan pergi karena ketakutanku. Ketika bertemu dokter retno, aku melihat sosok yang kecil imut dan lincah. Beliau melakukan pemeriksaan ulang pada diriku..dan kemudian mengatakan memang harus operasi dan aku harus 3 bulan sering kontrol kerumah sakit (Oh Tuhan, apa ini yang aku dengar??? bagaimana pekerjaanku di Sarulla, bagaimana dengan pasien-pasienku? Apa yang harus kulakukan Tuhan??). Dan pergumulan datang lagi didiriku, dokter Retno memerlukan pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan Rontgen. Pemeriksaan Rontgen di rumah sakit tersebut hanya memiliki dokter spesialis radiologi wanita yang bertugas dihari selasa dan artinya harus menunggu 3 hari dari kedatanganku saat itu. 
Suri, Rindhi dan aku

Diruang tunggu pasien aku termenung dan berfikir apa yang harus kulakukan, siapakah yang bisa memberi aku saran dan info untuk dokter radiologi wanita. Lalu terbersit nama Rindhi..perawat gigiku di Sahid, kutelepon dia dan kudapat info bahwa rumah sakit dulu aku bekerja memiliki dokter radiologi dan tim nya adalah wanita..begitu juga dokter bedahnya. yuupppss..itu lah solusi yang kudapat hari itu..ada setitik cerah hari itu tapi hatiku masih merasa bimbang.

Bimbang hati ku hari itu ingin kuluapkan entah kemana..sepertinya semua orang susah untuk dihubungi. Tapi sekali lagi Tuhan itu baik,,,dia kirimkan orang yang bisa kuajak berdiskusi dan bisa memberi saran yaitu bapak supir taksi yang aku tumpangi..dia memberi saran menjadi "dibutuhkan itu sangat penting, jangan sampai menyerah karena suatu masalah". yaaa...aku harus sembuh, aku harus melanjutkan pencarianku untuk sembuh dan aku harus menghilangkan pikiran negative ku yang merasa sendiri dan ditinggalkan..aku tahu adik-adikku juga punya kegiatan dan hal itu penting juga bagi hidup dan masa depan mereka dan jika mereka berhasil, aku juga akan merasa bahagia (kalau istilah kak Mastiur : Bahagiamu bahagiaku juga... :))

Akhirnya aku memutuskan untuk melakukan pemeriksaan radiologi di rumah sakit sahid..disitu aku dilayani baik (maklum orang lama keluaran baru hehe)..aku bertemu dgn dr. Tektona Sp.Ro  dan juga dr. Lasmi Sp. B.  Mereka memeriksa aku dengan telatennya..bahkan dr Lasmi bersedia konsul kapan saja aku mau..dan dia menjelaskan dengan sabar, bahkan disaat aku merasa khawatir dia menyemangati diriku. Akan tetapi saat melihat hasil radiologi...terbersit kebimbangan..dia juga merasa khawatir dengan diriku apalagi karena sudah kenal (biasa loooohh..terkadang profesionalisme dokter terganggu karena ikatan emosi). Akhirnya kami memutuskan untuk mencari dokter bedah digestive yang lebih ahli dalam bidangnya apalagi benjolan ku itu sudah memiliki saluran kearah saluran pencernaanku. Yuuupppsss, pencarian terus berlanjut dan kesabaran kembali teruji.

Mencari dokter bedah digestive seorang wanita ternyata tidaklah mudah karena jumlahnya sangat sedikit di Indonesia ini. Aku mencari di Internet..mengutak atik mbah google dimanakah ada dokter bedah digestive wanita, menyurati via email ke perkumpulan bedah digestive dan bertanya dimana ada dokter bedah digestive yang dapat direkomendasi. Puji Tuhan, ternyata usahaku tidak sia-sia..aku mendapatkan info dari mbah google bahwa ada seorang dokter bedah digestive wanita namanya dr. Maria Mayasari, Sp. B (KBD).  Aku membaca profile beliau...wow, ternyata beliau adalah dokter bedah digestive wanita lulusan pertama di UI (aku berfikir pasti beliau adalah orang yang istimewa yang ditunjukkan Tuhan) kemudian aku hubungi semua no telepon rumah sakit tempat beliau bekerja yaitu RSCM dan RS Medistra dan benar beliau memang bekerja di RS tersebut.


dr. Maria Mayasari (my inspiring doctor)

Akhirnya kuputuskan untuk menuju RSCM...dan lagi-lagi aku diantar supir taksi (aku rasa taksi Burung biru itu berhak mendapatkan award dariku atau aku yang harus dapat award dari mereka..xixi). Entah mengapa, bapak supir mengantarkan aku ke RSCM Kencana (sebelumnya aku tidak pernah menginjakkan kaki di RSCM) dan disitulah aku baru tahu ternyata RSCM terbagi 2 yaitu RSCM Pusat dan RSCM Kencana. Aku melangkah menuju meja registrasi  dan bertanya kapankah dokter Maria berpraktek, si mbak resipsionisnya bilang hari ini dokter Maria praktek tapi sekitar jam 1 nanti diriku bisa terlayani..aku bilang tidak apa-apa, saya akan menunggu dan dalam hatiku merasa bersyukur karena Tuhan berikan jalan untuk bertemu beliau.

Selama aku menunggu, aku mengelilingi RSCM Kencana...."wow" mewah juga ya tempatnya..lumayan juga ada residen yang keren-keren dan bule-bule yang bisa dilihat-lihat disitu tapi saat itu yang sangat berkesan adalah restauran didalam rumah sakit...yuuuppp, aku segera memesan makan siangku yaitu nasi goreng. Kumakan dengan enaknya..nyummiiii...nyummmiiii..rasa nasi goreng hahaha...tapi ketika membayar billnya...wow!! nasi goreng rumah harga internasional!! Wokeeehh, aku keluarkan uangku dengan agak sedikit tidak ikhlas..tapi jadi pembelajaran..kalau mau makan direstauran ditanya dulu menu dan harganya, biar serasa seimbang yang dimakan dengan yang dibayar (ini tips looohh..serius!!)xixixi.

Setelah makan siang, akhirnya aku kembali ke poli bedah digestive dan akirrrnyaaa saudara-saudaraaaa!! saya bertemu dengan dokter saya ituuu...dokter maria mayasari.  Dan kembali juga keputusan dari beliau adalah tindakan operatif (eeennggg iinngg eeeenggg....what should i do??). Beliau membuatkan semua surat2 utk rawat inap, pemeriksaan lengkap preoperative dan ruang untuk operasinya.. beliau mengatakan bisa pulang dulu ketempat tugas, tidak mesti terburu-buru untuk melakukan operasinya tapi jangan dilamakan..kemudian minumlah antibiotik dan kemungkinan2 yang sering aku alami adalah demam jadi tidak baik juga dilamakan. Yuuuuppsss..kuputuskan untuk kembali ketempat tugas dan apalagi kudengar surat keputusan kabupaten bahwa aku sudah pindah tugas ke daerah sangat terpencil.  Kusegerakan kembali ketempat tugas untuk melapor kepada kaupt yang baru dan mengurus surat cutiku kedinkes taput.

Sebulan kemudian, setelah aku selesaikan semua urusan surat-surat ijin..akhirnya aku kembali ke RSCM. Untuk menuju hari operasi, bukanlah hal yang lancar juga..masih butuh perjuangan. Minggu pertama aku kembali ke RSCM aku harus melakukan pemeriksaan Preoperative (poli bedah digestive, pemeriksaan laboratorium dan anestesi semua harus aku lakukan) dan puji Tuhan kondisi ku baik saat itu. Tetapi ada satu permasalahan yang kuhadapi yaitu ternyata daftar antri untuk ruang rawat inap di RSCM sangat padat dikarenakan RSCM adalah rujukan Nasional, sehingga pasien sangat membludak disana. Atas saran seorang sahabatku yaitu bang Frans, aku mendaftar semua kelas termasuk kamar VIP yang bisa di koosharingkan (pembiayaanku dibantu oleh askes).
Memasuki minggu kedua, ternyata aku dapat info dokterku berangkat ke Amerika untuk seminar digestive...aku berusaha mengejar dokterku untuk bertemu untuk menentukan tanggal tapi aku tak bisa juga bertemu beliau. Akhirnya yang paling konyol adalah aku pergi dan pulang dengan taksi yang sama dan berbincang dengan bapak supir..tapi bapak supir heran melihatku kok wajahku tidak cemberut atau kecewa...tapi dalam hatiku aku hanya bisa bergumam karena tidak ada gunanya lagi aku menangis atau marah, tetapi hatiku bertanya pada Tuhan, apa lagi ini Tuhan?? ujian kesabaran apalagi?? seharusnya aku sudah operasi minggu ini tapi kenapa terhalang dengan hal kamar dan dokterku.
Dalam penantianku diminggu itu, banyak godaan dan kebimbangan kualami yaitu saat diriku dihubungi rumahsakit bahwa kamar vip ku tersedia tapi dokterku tidak ada, dan kemudian juga pihak ruang operasi tidak menyetujui tanggal operasiku (memang saran pegawai ruang operasi, sebaiknya menunggu dokter maria pulang daripada diriku dikerjakan dokter lain saat diruang operasi) dan juga aku berfikir untuk melakukan operasi saja dimedan (tapi atas beberapa saran teman, aku lebih baik melanjutkan pengobatanku di RSCM karena itu sudah yang terbaik, hanya haruslah bersabar dan menunggu waktuNya..#maaf ya teman-temanku, aku sudah merepotkan kalian#). Dan kuputuskan minggu kedua itu aku untuk bersabar kembali dan berusaha mencari cara untuk berkomunikasi dengan dokter maria (termasuk menghubunginya via media sosial Facebook..memang konyol kadang apa yang aku lakukan tapi aku hanya mencoba semua kemungkinan). Tapi kusadari juga, bahwa bila aku operasi minggu kedua itu pasti akan dicancel juga dikarenakan kondisiku yang drop karena kecapean, demam dan kondisi hormonal wanita tiap bulan.

RSCM Pusat Gedung A

Pada minggu ketiga, aku masih berusaha lagi untuk mencari dimana keberadaan dokterku. Apakah beliau sudah kembali ke Indonesia..kuhubungi semua perawat-perawatnya, kuhubungi rutin bagian rawat inap..tapi apa dinyana, urutanku masih no 14 pada senin sore itu (muncul kekhawatiranku bisa-bisa ga jelas nih kapan aku akan operasi). keesokan harinya dihari selasa, aku akhirnya bertemu dengan dokter maria...rasanya senang sekali bisa melihat wajah dokterku itu. Dan entah mengapa setelah bertemu beliau..semua jalan untuk operasi serasa dimudahkan. Saat dapat kapan tanggal aku akan operasi dari dokter maria, aku langsung menghubungi ruang operasi, disitu aku bertemu dengan ibu Ros..dia membantuku dan juga mengacc langsung tanggalku (aku rasa dia kasihan lihat ku karena asik bolak balik mengurus semua sendiri) dan aku juga ceritakan pada ibu itu, saat aku mau operasi, aku tidak mungkin melakukan administrasi sendiri..bisakah aku dibantu?? ibu itu mengatakan padaku.."dokter ester tenang saja, istirahatlah dan persiapkan diri untuk operasi, jangan cape-cape..sekarang tinggal kita tunggu antrian rawat inapnya ya, kalau ada apa-apa bisa hubungi saya (ingin rasanya kupeluk ibu itu, dia bersedia membantuku mempersiapkan itu semua). Dan ketika aku menuju admisi rawat inap, lagi-lagi kesabaranku diuji..ternyata waiting list ku belum beranjak juga dari nomor 14 padahal hari Jumat tanggal 26 Juli 2013, aku harus dilakukan tindakan operasi..oohh Tuhan, haruskah aku bersabar lagi?? kuputuskan pulang kerumah hari itu dan menunggu kabar.
Tiba-tiba Rabu malam tanggal 24 Juli 2013, telepon rumahku berdering..terdengar suara operator admisi bicara padaku : "dokter ester, masih maukah dirawat di RSCM?". aku menjawab : "ya, saya mau..", Admisi: "dokter besok datang bawa semua berkas dan keperluan dokter ya..besok masuk rawat inap."  Betapa senangnya diriku mendengar kabar itu, semuanya minggu itu berjalan baik. Kuhubungi adik-adikku dan sahabat-sahabatku yang mendukung, yang selalu berdoa untukku dan memberiku semangat selama ini, lucunya bukan rasa takut lagi yang kuhadapi untuk operasi tapi justru rasa syukur karena Tuhan kasih aku jalan untuk sembuh disitulah muncul istilah "Sembuh untuk lanjut menyembuhkan" dari dalam hatiku (tapi bagaimana aku mendapatkan istilah itu ada kejadian tersendiri..aku akan ceritakan di lain waktu). Yaaa...saat itu aku bahagia sekali, padahal awal-awal dulu aku sangat ketakutan untuk dioperasi..mau tahu apa yang menjadikan ketakutanku, yaitu pengalamanku sebelumnya, aku pernah dianestesi spinal sebelumnya dan aku melihat perutku dibelah melalui pantulan cermin lampu operasi dan setelah itu aku muntah-muntah) tapi ternyata setelah kujalani operasi ini..semuamya baik-baik saja.

Dalam mengambil setiap keputusan itu..Tuhan tidak biarkan aku sendiri, aku memiliki teman-teman, adik dan sahabat doa yang senantiasa aku ganggu waktunya...siapa-siapa sajakah mereka?? dan bagaimana perjalananku selanjutnya mencari dan menjalani pengobatan ini?? 
hmmmmm.....nanti kita lanjut lagi yaaa...ada undangan makan siang dari sahabatku Nadira.


^_^Y









1 komentar:

  1. ending nya gimana mbak...biar jd cerita buat isteri sy yg terkena kanker hati biar tetep semangat ..

    BalasHapus